Minggu, 26 Januari 2014

Lahirnya Sang Berambut Karang

(Kisah lahirnya Arumpone La Saliyu Karampeluwa)

Oleh Ethos AHM


1398. Tersebutlah suatu wilayah yang terletak di sebelah timur sungai Walennae dan selatan sungai Cenrana. Tumbuh kerajaan-kerajaan kecil yang tumbuh dan saling berperang antara satu dengan yang lain. Suatu masa kepemimpinan generasi setelah Manurunge ri Matajang. Putranya yang menduduki tahta pemimpin Bone selanjutnya dikenal dengan Arumpone Laummasa, Raja Bone. Ia memiliki kemampuan daya ingat yang tajam dan penuh perhatian. Ia dikenal jujur, adil dan bijaksana dalam menjalankan roda pemerintahan.



Tanah yang subur, bentangan alam yang menghampar hijau, pepohonan yang selalu siap ditebang buat dipergunakan, ladang dan sawah pun dipanen. Pada masa pemerintahannya, rakyatnya mulai memanfaatkan peralatan logam untuk bercocok tanam maupun berburu.

Bahkan Raja pun mulai memperkuat perlengkapan perang bala tentaranya. Pedang, tombak, keris dan badik serta perlengkapan tameng, mulai ditempa dari besi. Sehingga ia pun mendapat gelar “Petta Panre Bessie”, pengakuan akan kepandaiannya mengolah bahan logam. Ia berhasil memanfaatkan perdagangan besi di Cenrana yang didatangkan dari kerajaan Luwu. Besi yang sumbernya bisa ditemukan dengan mudah di Luwu.


Laummasa Petta Panre Bessie telah mengembangkan wilayah kekuasaan kerajaan Bone. Ia telah menaklukkan wilayah-wilayah seperti Anro Biring, Majang, Biru, Maloi dan Cellu, hampir tidak ada perlawanan berarti bagi pasukannya.

Hingga berselang waktu, di masa usianya yang sudah lanjut dirundung gelisah. Arumpone Laummasa Petta Panre Bessie, rambut putihnya yang mulai tampak jelas semakin menegaskan kerutan di raut wajahnya akan usia yang telah mengiringinya. Sekalipun Ia telah memimpin kerajaannya dengan baik, namun demikian disadarinya bahwa kondisi kesehatannya pun mulai melemah.

Tatkala tiba di Bone usai berperang, sampailah kepadanya kabar berita bahwa adiknya yang bernama We Pattanra Wanuwa yang berada di Palakka, yang telah menjadi istri Lapattikkeng Arung Palakka akan segera melahirkan. Berita yang menggembirakan baginya, sekaligus diliputi diliputi ketegangan. Karena putra yang akan lahir akan menjadi generasi penerus tahta, bukan saja akan menjadi Raja Palakka, namun juga dapat menjadi pewarisnya, dapat menjadi Raja Bone.

Ia hanya mempunyai dua putri, bernama Sulewakka dan Suwalle. Putri-putri dari istrinya yang berasal dari bangsawan biasa, putri dari Matowa Ciung. Raja tidak memiliki anak pattola, anak yang berhak menggantikannya kelak yang dapat duduk di singgasana sebagai Mangkau, Raja di Kerajaan Bone. Kedua putrinya hanyalah tergolong sebagai anaq Cera’.

Dipikirkanlah saudara-saudarinya yang telah berpencar di berbagai wanua. Saudaranya yang bernama La Wajo Langi telah menyeberang ke Butung (Buton) dan menetap disana, sementara La Raja Langi telah menikah dengan We Tenri Sui, dan jadi penguasa di kerajaan Cinnottabi[1] bersama istrinya.

Sedangkan saudara perempuannya, We Samateppa sudah mendampingi pula suaminya, La Ureng Riwu Arung Mampu. We Tenri Salogan dinikahkan dengan La Ranringmusu Arung Otting. Begitupula dengan We Arantiega yang kawin dengan La Patongarang Arung Tanete.

Kini, We Pattanra Wanuwa yang telah menikah dengan penguasa di Palakka, Lapattikkeng Arung Palakka, telah menunggu hari kelahiran bayinya. Ia pun sadar, hubungannya dengan Lapattikeng tidaklah harmonis. Perselisihannya di masa lalu dengan iparnya sebelum menjadi Raja Bone, masih berbekas. Masa lalu, perang yang terus berlangsung tiga bulan di antara mereka berdua tanpa ada yang menang dan kalah. Lalu pada akhirnya berdamai dan berikrar mengakhiri perkelahian di antara mereka. Keduanya menyadari bahwa permusuhan tidak akan membawa keuntungan bagi mereka. Orang tuanya pun mempererat hubungan Bone dan Palakka dengan menikahkan adiknya dengan Lapattikkeng Arung Palakka.

Kini, keponakannya yang akan lahir memiliki darah pattola sengngeng,[2] merupakan pewaris tahta dua kerajaan, yang dapat mempersatukan Bone dan Palakka. Telah beberapa hari ia bermuram diri. Tak biasanya ia berlama-lama dalam Istananya. Tak ada yang memahami kenapa sang Raja tampak tegang. Bila hendak perang, sikap seperti itu tak pernah terlihat. Hanya raja yang memahami, Ia sendirilah yang mengetahui pikiran dan perasaannya.

Arumpone memikirkan bahwa kelahiran ponakannya akan menjadi peristiwa penting yang kelak sangat menentukan tahta dua kerajaan. Bila anak yang akan lahir ini dibesarkan di Palakka, maka Bone akan mengikut ke Palakka. Namun bila ia berhasil membawa anak ini ke Bone, maka sebaliknya, Palakka lah yang akan bergabung ke Bone.

Setelah dipikirnya dengan matang, Petta Panre Bessie kemudian menyuruh kedua anaknya pergi ke Palakka, dimana bibi mereka yang sedang mengandung sang jabang bayi. Arumpone segera berpesan kepada anaknya, Suwalle dan Sulewakka; ”Berangkatlah kalian ke Palakka. Kalau Puammu telah melahirkan, maka ambil dan bawa bayi itu secepatnya kemari. Nantilah di sini baru dipotong ari-arinya dan ditanam tembuninya.”

Raut kaget di wajah kedua putrinya seketika nampak. Namun, setelah menyimak pesan ayahnya, tanpa banyak waktu segera berkemas. Berangkatlah keduanya ditemani beberapa pengawal menyertai perjalanannya.

Tak banyak rintangan yang dihadapi dalam perjalanan menuju Palakka, hingga tiba di rumah bibinya. Suwalle dan Sulewakka pun mengikuti detik-detik kelahiran sepupunya. Hingga lahirlah sepupunya. Tangisan suara bayi pun memecah keheningan malam.

Di tengah kesibukan dan kesempatan yang hanya berselang waktu yang sempit, tanpa membuang waktu lebih banyak, setelah bayi berada dalam gendongan Suwalle, Sulewakka pun memberikan aba-aba tuk beranjak perlahan menuju ke pintu belakang. Setelah berhasil keluar lewat pintu belakang tersebut,  keduanya pun berlarian kabur membawa sang bayi dan bersama rombongan pengiringnya meninggalkan Palakka.

Seisi Istana Palakka menjadi gempar. Saat itu, Lapattikkeng Arung Palakka tidak ada di tempat. Tak terpikirkan bila kedua keponakannya yang menemani detik-detik kelahiran putranya telah bermaksud membawanya kabur.

Ketika mengetahui bahwa anaknya dibawa pergi ke Bone, seketika menjadi marah dan gundahlah hatinya. Diperintahkanlah pasukan untuk mengejar mereka yang telah membawa anaknya.

Dalam pekatnya malam, yang tak cerah di bawah langit, dimana bintang-bintang pun tak menunjukkan kehadirannya, seakan enggan menyaksikan malam itu. Selama dalam perjalanan Suwalle dan Sulewakka tidak pernah menengok ke belakang. Terus berlari menembus hutan belantara.

Melewati tengah malam hingga di pagi buta pengejaran terus dilakukan. Namun pengejaran itu tidak berhasil, seketika pasukan yang mengejar kehilangan jejak. Kabut tiba-tiba turun, menghalangi arah pandangan pasukan Palakka yang mengejar mereka. Obor-obor yang menyertai para pasukan tidak lagi berarti apa-apa di antara kabut yang menutup rapat-rapat segala ruang yang, menyembunyikan alam di balik selimutnya.

Dalam pengejaran yang sangat melelahkan itu, akhirnya para pasukan pengejar tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain kembali ke Palakka dengan tangan hampa.

Sementara itu, setelah jauh meninggalkan pasukan Palakka, singgahlah rombongan Suwalle dan Sulewakka beristirahat di tengah perjalanan mereka menuju Bone. Tiba-tiba setelah tak terdengar apa-apa sepanjang perjalanan, tangisan bayi mulai memecah dinginnya alam, menyayat pilu.

Paniklah rombongan itu mencari air, guna menghilangkan dahaga sang Bayi. Beruntunglah para pengejar sebelumnya tidak lagi memburu mereka, sudah balik ke palakka, sehingga tangisan itu hanya memecah dini hari, saat lelapnya ayam yang masih bertengger di antara rimbun pepohonan.

Saat-saat mereka berputus asa dalam pencarian air, terdengar gonggongan anjing tak jauh dari tempat rombongan itu beristirahat. Dua orang dari rombongan segera menghampiri arah gonggongan anjing itu berada. Ditengoklah dari balik rimbun pohon yang menghalangi.

Setelah memperhatikan sejenak anjing itu dan apa yang menjadi perhatian anjing itu, seketika mereka mendekatinya dan anjing itu berlari menjauh, lalu lenyap dibalik pepohonan. Ternyata yang menjadi perhatian anjing adalah mata air yang baru saja keluar dari celah tanah. Betapa girangnya, segera memanggil semua rombongan untuk menikmati mata air tersebut.

Dengan segera diseduhlah air itu. Dengan memakai telapak tangannya, Sulewakka meminumkan air itu ke sang bayi yang sementara berada dalam gendongan Suwalle. Tenanglah sang bayi kemudian. Semua rombongan yang turut bersama dalam perjalanan itu, mengucap syukur kepada sang Dewata.

Setelah berbagai rintangan berhasil dilewati, hingga sampailah rombongan mereka di Bone. Setibanya di Salassae[3], barulah ari-ari bayi yang baru lahir itu dipotong dan dicuci darahnya. Arumpone Petta Panre Bessie sangat gembira melihat bayi itu yang merupakan keponakannya yang akan mewarisi tahta Bone.

Berceritalah Suwalle dan Sulewakka kepada ayahnya tentang segala peristiwa yang dialami mereka sepanjang perjalanan dari Palakka hingga sampai di Bone. Begitupula tentang Saliyu (kabut) yang tiba-tiba turun menghalangi pandangan para pengejar mereka sehingga berhasil tidak terkejar lagi.

Setelah mendengar cerita kedua anaknya, Arumpone Petta Panre Bessie kemudian memberi nama anaknya “Lasaliyu”, sesuai peristiwa yang telah dialaminya dalam perjalanan menuju Bone. Bayi laki-laki yang sehat dan memiliki rambut karang[4], sehingga sang bayi pun kerap dipanggil “Karampeluwa”.

Arumpone Petta Panre Bessie kemudian mengutus surona (dutanya) ke seluruh penjuru wilayah kerajaan menemui dewan adat (hadat pituE). Petta Panre Bessie berhasrat mengumpulkan para arung di Bone untuk membahas masalah ini.

Kemudian beberapa orang diperintahkan untuk membangun Baruga. Sebuah bangunan sederhana berupa panggung sekadar untuk menaungi Baginda beserta anggota Hadat Pitue dari terik matahari atau hujan.

Pertemuan dengan para Dewan Adat tersebut dilangsungkan. Petta Panre Bessie menjelaskan peristiwa itu dan kelangsungan masa depan kerajaan Bone. Disampaikanlah tentang pewarisnya kelak dan peristiwa yang dilalui kedua putrinya dari Palakka.

Rapat itu pun mengiyakan pikiran Raja Bone. Bahwa bayi tersebutlah yang berhak menjadi pewaris tahta Bone selanjutnya, karena timbangan darahnya murni, darah pattola sengngeng atau anak mattola matase, darah Raja yang mengalir dalam kedua orang tuanya, ayah dan ibu.

Setelah mendiskusikan hal tersebut kepada dewan adat, bahwa keputusan Raja Petta Panre Bessie akan segera melantik bayi Putra Arung Palakka tersebut menjadi penerus Raja Bone di hadapan rakyatnya pagi ini. Hal tersebut keputusan yang sulit diterima oleh para dewan adat, namun keputusan tersebut merupakan pilihan paling tepat, guna menghindari pertumpahan darah antara Bone dan Palakka. Bila Arung Palakka akan berperang melawan Bone, maka sama saja berperang melawan anak, karena sang bayi telah diangkat menjadi Raja Bone pagi itu.

Pelantikan tersebut akan menjelaskan kepada Lapattikkeng Arung Palakka, bahwa maksud peristiwa tadi malam ini dengan dibawanya sang bayi sampai ke Bone tak lain untuk melantiknya sebagai penerus Raja Bone selanjutnya. Sehingga Arung Palakka pun harus menerima takdir sang Bayi ini. Ini akan mendamaikan,  akan menghindarkan kemungkinan perang dengan kerajaan Palakka yang dapat terjadi.

Seusai pertemuan tersebut, Petta Panre Bessie, Raja Bone mengundang seluruh rakyatnya untuk datang berkumpul di istana kerajaan, sepagi mungkin.

Tatkala matahari mulai menampakkan dirinya di arah timur, mulai berbondong-bondong rakyatnya datang di halaman depan Barugae.[5] Terlihatlah pula Matoa pitue (tujuh dewan adat Bone) telah berkumpul pula di Barugae, beserta rakyatnya yang berasal dari pitu wanuwa (tujuh unit utama kerajaan) maupun yang berasal dari daerah-daerah palili[6]. Mereka datang dalam keadaan siap siaga untuk menghadapi kemungkinan perang, sehingga masing-masing lengkap dengan senjata perangnya. Bendera Woromporonge pun berkibar dengan gagahnya, menyemangati suasana di pagi hari itu.

Turunlah Arumpone di Baruga menyambut rakyatnya dan berkata :
”Saya undang kalian untuk mendengarkan bahwa saya telah mempunyai pewaris tahta kerajaan ini untuk menjadi penerusku, seorang anak laki-laki yang kuberi nama Lasaliyu Karampeluwa. Mulai hari ini saya menyatakan bahwa kepada Lasaliyu lah saya menyerahkan kedudukan saya sebagai Arumpone. Dan kepadanya pula saya serahkan untuk melanjutkan perjanjian yang mengikat antara Puatta Manurunge ri Matajang dengan rakyat Bone.”

Haru biru seluruh orang Bone menyambut pesan yang disampaikan oleh Arumpone, kegembiraan pun terpancar di seluruh kerajaan Bone.

Setelah Arumpone menyampaikan pesan kepada rakyatnya, mulailah para arung di Bone melakukan mangngaru[7], sumpah setia di hadapan sang Raja, Arumpone Lasaliyu Karampeluwa.

Petta Panre Bessie kemudian menyematkan simbol pelantikan kepada pewaris tahta Bone, Karampeluwa, sang bayi yang baru berumur sehari. Setelah itu dinaikkanlah Karampeluwa ke Langkanae (istana). Pesta dengan nariule sulolona (acara selamatan kelahiran) yang sekaligus dirangkai dengan pelantikan sang pangeran mahkota kerajaan. Pesta dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam.

Waktu berselang sejak peristiwa itu. Setiapkali Petta Panre Bessie akan bepergian, bayi itu dipelihara oleh bibinya yang kerap datang berkunjung di bone.

Sampailah suatu hari yang dibayangkan oleh Petta Panre Bessie tiba, dimana kondisi kesehatannya yang memang semakin buruk dan terbaring sakit keras. Petta Panre Bessie pun berpesan bahwa bila nanti ajalnya tiba, maka hendaknya jasadnya nanti dikubur, tidak dibakar sebagaimana lazimnya para penduhulunya. Sehingga setelah penguburannya mendapat gelar “Petta Panre Bessie Mulaiye Panreng”[8].

Karampeluwa boleh dikatakan telah menjadi Raja sejak lahir, karena dalam usia satu malam, sudah dilantik menjadi Arumpone. Kalau ada sesuatu yang akan diputuskan maka sepupunya yang bernama Suwalle, anak perempuan Petta Panre Bessie, yang memangkunya menjadi juru bicaranya. Kemudian yang bertindak selaku Makkedang Tana[9] adalah sepupunya yang bernama Sulewakka, anak sulung perempuan Petta Panre Bessie.

To Suwalle kemudian menjabat sebagai Tomarilaleng Pertama di kerajaan Bone dan To Salawakka sebagai Makkedang Tana Pertama di kerajaan Bone, yang bertindak sebagai juru bicara kerajaan pada masa pemerintahan sepupunya Lasaliyu Karampeluwa sebagai Raja Bone ke-III.


*****

Daftar Bacaan dan kajian :
Prof. Dr. Mattulada. 1995. Latoa, Satu Lukisan Analitis Terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Makassar: Hasanuddin University Press.
Drs. A. Sultan Kasim. 2002. Aru Palakka Dalam Perjuangan Kemerdekaan Kerajaan Bone. Bone: Penerbit CV. Walenae.
Drs. Asmat Riady Lamallongeng. 2008. Catatan disadur dari Lontara’ Akkarungeng ri Bone, milik Drs. A. Amir Sessu yang diterbitkan dengan biaya Pemerintah Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan tahun 1985. http://telukbone.wordpress.com/page/12/
Narasumber Anonim, 2010.




[1] Cikal Bakal kerajaan Wajo
[2] Mattola Sengngeng = berdarah takku, Matase, putra/putri mahkota yang kedua orang tuanya adalah Raja.
[3] Istana
[4] Rambut yang tegak ke atas
[5] Balai pertemuan
[6] Daerah taklukan atau bergabung secara damai
[7] Mengucapkan sumpah setia.
[8] Raja bone pertama yang dikubur setelah manurunge ri matajang mallajang (raib ke langit).
[9] Makkedang Tana adalah jabatan Mangkubumi atau Perdana Menteri.

Sabtu, 11 Januari 2014

Yang Menggetarkan Selat Malaya

1400an...

Kala itu, Selat Malaya, perairan yang ramai di kunjungi para pedagang dari berbagai penjuru dunia. Selat yang diapit oleh semenanjung Malaya dan semenanjung Andalas, yang terletak di barat Nusantara. Nampaklah ratusan kapal bermunculan dari ujung laut. Ketika angin mulai membawanya mendekat, terlihatlah ciri khas kapal-kapal itu yang beda dengan kapal lainnya yang senantiasa berlalu lalang di selat itu. Namun iringan kapal itu seakan tak asing lagi, para pedagang yang berlabuh di Malaka sudah terbiasa dengan kedatangannya. 

Minggu, 25 November 2012

Bung Karno dan Politik Minyak Kita


Oleh: Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto

"Jangan Dengarkan Asing..!!"

Itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, "Elu ada, gue ada" kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat.

Senin, 12 November 2012

“Quo Vadis” RUU Kamnas

Oleh Trimedya Panjaitan

Pemerintah akhirnya merevisi naskah RUU tentang Keamanan Nasional. Namun, revisi tersebut tidak signifikan. Substansi RUU Kamnas tetap berbahaya dan mengancam kebebasan dan supremasi sipil.

Naskah RUU Keamanan Nasional (Kamnas) tertanggal 16 Oktober 2012 itu disampaikan pemerintah dalam rapat kerja dengan Panitia Khusus (Pansus) RUU Kamnas, Selasa, 23 Oktober 2012. Dalam naskah RUU Kamnas terakhir ini terdapat perubahan dibandingkan sebelumnya, yaitu semula terdiri atas 60 pasal jadi 55 pasal. Namun, setelah dicermati, revisi ini tidak mengubah karakter dasar RUU Kamnas yang kental nuansa sekuritisasinya.

Selasa, 06 November 2012

RUU KAMNAS DAN RECHTSTAAT KITA


Oleh: Ratno Lukito 

Di tengah hiruk pikuk perpolitikan di Tanah Air akhir-akhir ini, publik diramaikan lagi dengan gunjingan media tentang pro kontra Rancangan Undang-Undang Keamanan Nasional (RUU Kamnas). Meski masih tahap awal perbincangan itu di DPR, reaksi fraksi-fraksi terhadap rancangan itu sudah sangat keras, disamping tentu saja diskusi dan perdebatan yang tidak kalah serunya di kantong-kantong organisasi sosial masyarakat. Secara umum publik menanggapi rancangan itu dengan nada negatif dan variatif meski substansinya sama, yaitu penolakan. 

Minggu, 04 November 2012

RUU Keamanan Nasional dan Capres 2014


Oleh: Anton Dewantoro

Di banyak jajak pendapat yang dilakukan oleh berbagai surat kabar disebutkan bahwa Prabowo Subiyanto adalah kandidat presiden yang akan mendapatkan suara terbanyak jika saja Pemilu dilaksanakan tahun 2012 ini. Rakyat rindu figur pemimpin yang tegas dan berwibawa, oleh karena itu pemimpin dari kalangan militer dianggap bisa menjawab kebutuhan ini. Eh…eh…eh, tunggu lho bukannya Pak SBY yang sekarang masih jadi presiden dulunya orang militer juga?

Publik seolah dikondisikan bahwa “keamanan” Indonesia saat ini sedang terguncang sehingga kemakmuran bangsa terganggu. Waduh, rada Jaka Sembung cuy! Ketegangan di Poso yang ditandai dengan kematian dua orang anggota polisi mejadi pengesahan bahwa kondisi keamanan negara ini memang sedang terancam.

Senin, 29 Oktober 2012

Tolak RUU Kamnas


RUU ini yang berisi 55 pasal (versi 23 Oktober 2012) ternyata berisi tentang bagaimana peran militer (TNI/BIN) dalam mengatasi berbagai ancaman yang meliputi jenis, bentuk, spektrum dan sasaran ancaman yang dihadirkan secara luas dan abstrak dalam RUU ini, sehingga mampu ditafsirkan secara subjektif sesuai keinginan penguasa/militer.

Semua bagian dalam RUU Kamnas ini sebenarnya telah diatur oleh berbagai peraturan perundang-undangan, baik secara sektoral maupun terhadap penanganan berbagai tindak kejahatan, mulai dari tertib sipil hingga darurat perang.

Ada beberapa hal kampanye menyesatkan yang dilakukan oleh para pengusung RUU Kamnas, karena RUU ini berisikan:

Sabtu, 27 Oktober 2012

Mengapa RUU Kamnas Harus Ditolak ?

12 Alasan penolakan RUU Kamnas

Dalam draft RUU Kamnas yang diajukan pada tanggal 23 Oktober 2012, yang telah memangkas 5 (lima) pasal dari draft sebelumnya, sehingga menjadi 55 pasal. Namun demikian, RUU Kamnas ini telah keliru sejak penyusunannya, akibatnya seluruh pasal yang dimuat dalam RUU ini telah melabrak supremasi sipil.

Mengapa RUU Kamnas Harus Ditolak walaupun telah memangkas 5 (lima pasal). Karena seluruh pasal bermasalah. RUU ini disusun oleh Kementerian Pertahanan cq Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) TNI, yang mengakibatkan seluruh perspektif keamanan dalam RUU ini menjadikan domain utama dalam penyelenggara keamanan adalah militer, jelaslah ini sangat bertentangan dengan konsep keamanan dan pertahanan negara yang telah ditegaskan dalam UUD 1945.

Kamis, 25 Oktober 2012

Blunder RUU Kamnas

Oleh Muhammad L Hakim
Penulis adalah dosen Ilmu Pemerintahan Universitas Brawijaya Malang

Di tengah sorotan dunia internasional atas laporan penegakan demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) yang dinilai lamban, pemerintah justru membuat blunder dengan memaksakan pembahasan RUU Keamanan Nasional (Kamnas).

Selasa, 23 Oktober 2012

Belajarlah dari Sejarah Otoritarianisme


Oleh : Hariyono
Guru Besar dan Dekan Fakultas Sosial Universitas Negeri Malang,
Doktor di bidang Ilmu Sejarah Politik

Dalam usaha perjuangan reformasi membangun sistem demokrasi yang bebas dari penyakit sosial kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN), tatanan demokrasi kini menghadapi ancaman struktural yuridis.

Ancaman tersebut adalah munculnya RUU Keamanan Nasional yang kini sedang dibahas DPR. Beberapa pasal dari RUU tersebut cukup membahayakan demokrasi sekaligus keamanan masyarakat madani.

Senin, 22 Oktober 2012

RUU KAMNAS: Ajang Arogansi Prajurit Loreng


Oleh Shaleh Siregar 

Bicara arogan, negeri ini memang surganya para pegiat arogan. Coba kita intip dimulai dari rakyat hingga para wakil rakyat bepakah diantara mereka yang tidak bersikap arogan, pasti bisa dihitung dengan jari. Pak RT sebelah, tetangga sebelah, bahkan mungkin ayah sendiri. Sekarang yuk kita intip ke gedung kura-kura, anggota DPR yang dengan wah memamerkan harta kekayaannya, jam tangan harganya hingga 70 juta, naik mobil alpard yang harganya 3M, inginnya yang enak-enak saja.

Minggu, 21 Oktober 2012

Mengapa Demokrat Ambisi RUU Kamnas???


Oleh Sundari Yanto

Seperti diberitakan di Media bahwa RUU Kamnas telah di kembalikan ke Pemerintah dalam hal ini Mentri Pertahanan dan Keamanan untuk di perbaiki point-point yang menjadi catatan DPR bulan Juli 2012. Kementrian Pertahanan dan Keamanan RI kembali memasukkan rancanangan RUU Kamnas ke DPR bulan Agustus 2012, bukannya memperbaiki beberapa koreksi dan pertanyaan DPR dalam RUU Kamnas sebelumnya, Pemerintah malah memasukkan RUU di Proleg DPR untuk dibahas tanpa ada perbaikan.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Jenderal itu Kini ke Senayan...

Oleh : Ethos AHM

Belasan tahun silam, negeri ini mengalami titik balik dengan berakhirnya rezim militer. Dwifungsi militer yang pernah berlakubukannya menjaga rakyat dari ancaman yang datang dari luar, tetapi sebaliknya, cukup sibuk mengurusi rakyat mulai dari kata-kata yang harus dipakai, hingga buku-buku apa yang harus dibaca. Bila semua itu tidak dituruti maka tidak segan-segan aparat militer menangkapnya bahkan membunuhnya, dengan dalih subversif atau antek-antek Komunis !.

Kamis, 18 Oktober 2012

Komitmen Bersama di RUU Kamnas

Oleh: TB Hasanuddin ; Wakil Ketua Komisi I DPR RI

SAAT ini Pansus Rancangan Undang-Undang Keamanan Nasional (RUU Kamnas) DPR RI tengah menunggu draf revisi yang diajukan pemerintah. Berdasarkan catatan, beberapa kali RUU Kamnas hilir mudik antara DPR dan pemerintah karena tidak adanya revisi substansial dari pemerintah. Sebelum dibahas dalam tingkat pansus, RUU Kamnas telah terlebih dahulu dibedah di Komisi I DPR. Melalui Panja RUU Kamnas, Komisi I telah menerima beragam masukan mengenai draf RUU yang ada yang kemudian dapat dikelompokkan menjadi tiga isu utama, yaitu hakikat keamanan nasional, sinkronisasi peraturan perundang-undangan, serta fenomena pasal karet dan kekhawatiran publik.

Rabu, 17 Oktober 2012

Pindah

Salam hangat,
Blog ini merupakan mutasi dari blog saya yang lama, ethosahm.co.cc dan broethos.blogspotcom, yang oleh Blogger.com mendeteksinya sebagai spam. dengan susah payah, saya membuat lagi blog ini. bagi saya blog merupakan diary yang dapat dishare kepada siapa pun yang ingin berbagi.

Banyak hal yang mungkin menjadi pertanyaan-pertanyaan maupun kejanggalan di benak penulis, sehingga dengan kehadiran blog ini, beban yang ada di kepala sedikit demi sedikit ditumpahkan ke dalam blog ini.

Sekian dulu pengantar saya di awal blog ini.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Akhirnya ketemu juga

Welcome Akhirnya, setelah setahun lebih tidak bisa mengutak-atik blogku karena lupa email dan password yg saya gunakan tuk blog ini setelah dipindahkan ke domain co.cc, hahhaaaaiiiiii parah ya, bukannya butuh waktu setahun, tapi memang sayanya yang kali malas mengutak-atik browsing diinternet, hehe. ok lah kalau begitu... Karena sudah bisa kebuka, namun sekarang sudah dini hari menjelang subuh, jadi nantilah saya lanjutkan postingku ini. Salam... - by Ethos AHM, http://www.broethos.blogspot.com

Minggu, 25 Oktober 2009

AGENDA REFORMASI MILITER (TNI) YANG TERSENDAT

Menyorot RUU Kamnas versi Dephan

Konsepsi universal, supremasi sipil mengharuskan setiap negara demokrasi untuk menciptakan suatu sistem ketatanegaraan yang tidak memungkinkan aktor militer untuk mengambil suatu inisiatif tindakan represif tanpa persetujuan institusi sipil.

Sebagai bagian dari negara demokrasi maka prinsip-prinsip universal menjadi pedoman dalam kerangka membangun supremasi sipil. UU TNI sebagai produk reformasi telah berhasil menegaskan bahwa TNI adalah alat negara di bidang pertahanan yang dalam menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara (Pasal 2, 3 dan 5).

Kamis, 09 Juli 2009

BENARKAH KARAKTERISTIK MASYARAKAT INDONESIA LEPAS DARI PRIMORDIALISME?

“Statemen Alfian Mallarangeng menjadi Realistis”

Pasangan JK-Wiranto adalah simbol pasangan satu-satunya yang berasal dari luar jawa (minoritas), Sedangkan SBY-Budiono maupun Mega-Prabowo merupakan simbol Jawa (mayoritas) pada pilpres 2009. Dalam tiga kali acara debat kandidat Presiden yang diadakan oleh KPU, maka siapa pun mengakui (kecuali tim sukses yg telah berpihak) kalau JK (Jusuf Kalla) unggul dalam tiap acara tersebut. Elektabilitas JK terus naik. Namun berbanding luruskah dengan perolehan suara 8 juli 2009?
Hasil pilpres yang dilaksanakan 8 juli 2009 memberikan berbagai analisis terhadap hasil suara yang dihasilkan. Pasangan no.urut 2 (SBY-Budiono) hampir unggul di semua propinsi dengan rata-rata diatas 50 %, kecuali diantaranya Sulsel dimana JK unggul tipis diatas 50% dan SBY-Budiono diatas angka 40%.

Jumat, 03 Juli 2009

CUCI OTAK ALFIAN MALLARANGENG

Pernyataan Alfian dalam kampanye SBY-No di makassar, bahwa orang sulsel belum saatnya menjadi pemimpin negara ini merupakan pernyataan sesat dan menyinggung Sara (kesukuan).
Ada beberapa hal dalam statemen alfian yang membuat ketersinggungan orang-orang sulsel dan masyarakat Indonesia secara luas serta pencederaan terhadap demokrasi.
Pertama, bahwa orang-orang sulsel belum saatnya memimpin bangsa ini. Statemen tersebut tidak berdasar dan merupakan penilaian yang sesat, tidak saja merendahkan kapasitas dan kapabilitas orang-orang sulsel, tetapi menggiring opini bahwa hanya suku si A yang pantas saat ini. Pernyataan itu mengingkari eksistensi bangsa ini dan mengkotak-kotakkan masyarakat Indonesia malah justru terjebak dalam pilihan-pilihan kesukuan (Sara). Tidak ada satu orangpun yang berhak menilai Suku-suku siapa yang lebih pantas dalam memimpin negara ini.

Selasa, 17 Maret 2009

Menadah Hujan di Lereng Bukit

Suatu kali aku duduk di gubuk pinggir pematang sawah.Hamparan sawah terasering yang dibuat petak-petak kecil yang bertingkat-tingkat dengan luas yang beragam. Kulayangkan pandanganku ke hamparan di depanku, sawah yang terbentang luas. Benih-benih padi yang telah usai ditancapkan ke sawah, ditanam dengan tata pola yang rapi, baris berbaris, sejengkal demi sejengkal. Senandung doa di sanubari mengiringi tiap bibit yang dicelupkan ke tanah.

Bulan kemarin, ketika hujan berubah arah mulai menyiram tempat kami, memberikan harapan untuk segera kami mengambil cangkul untuk membalik tanah persawahan kami, tanah yang keras kami hancurkan. Kemudian mendiamkannya untuk selanjutnya kami injak-injak biar rata, menenggelamkan rumput kebalik tanah.

Sebulan telah berlalu. Semai benih telah setinggi lutut, Saat tanam padi di sawah telah tiba. Peluh keringat yang terus mengalir disetiap tubuh dibawah terik matahari yang telah sepuluh derajat lewat diatas kepala. Sejenak dipinggir pematang ini, mengisi kekuatan lagi dari rantang makanan yang dibawa dari rumah tadi pagi-pagi sekali.

Ramai kami dipinggir pematang. Gelak tawa selalu ada walau diantara cerita-cerita sederhana, tawa murni, cerita ini versi kami, jadi parodi kesenjangan tiap melakonkan tentang peristiwa-peristiwa dan gaya hidup yang diberitakan dan dipertontonkan media.
Kurasakan getaran tiap kali kumasuk dalam mimpi-mimpi para petani ini. Penuh harapan di musim panen empat bulan mendatang, karena Kami hanya mengandalkan musim hujan yang datang di sini.

Realitas yang telah menjadi asing di tempat lain. transformasi dibawah kaki bukit ini hingga bentangan jauh ke tempat lain telah berubah, subsistem fisik telah menjadi beda,lahan sawah, tata-tanam, sistem irigasi, serta subsistem sosial pun tak sama lagi, lahan sawah yang berubah fungsi, status petani yang menjadi buruh, bahkan kepemilikan lahan pun berubah.